Laman

Ahlan Wasahlan

Selamat Datang di Gerbang Ilmu Duniaku
Semoga bermanfaat ^^

Sabtu, 01 Maret 2014

Kutemukan Jawab-Nya




Wahai akhii..
Aku bermimpi di dalam tidurku yang lelap, bersama seluruh penantianku yang panjang. Aku menikmati hari yang indah bersamamu di taman syurga, bersemai sebuah keluarga dengan atap cinta Rabb-Nya, aku bersandar di bahumu menguraikan butiran air mata, betapa bahagia aku berada di sampingmu, dapat menjadi ibu bagi anak-anakmu, menjadi pendamping dakwahmu. Berdua melangkah menguatkan kilauan dakwah Islam.
Aku terbesit ingatan saat mengharapkanmu dalam kesendirian, menyelipkanmu dalam do’a-do’aku pada Illahi, mengalirkan air mata saat kau ucap sebuah janji bahagia di hadapan Allah, kau genggam erat tanganku, tatap indah wajahku, kau tersenyum malu, aku pun tertunduk seraya tersipu.  Hari itu menjadi saksi simpul sebuah tali yang baru, berlayar mengarungi bahtera rumah tangga, kau dan aku, kini tak lagi ada, kau dan aku kini hanyalah sebuah kata sederhana, “kita”.
Akhii..
Namun sekejap aku terbangun dari mimpi indah itu, sekelebat saja dan hilang semua memori indah yang terjadi begitu lama dalam kembang tidurku. Aku menangis, tak kuasa aku menahan rasa kesedihan ini. Tuhan.. sudah sejauh inikah aku melangkah? apakah aku telah terperangkap dalam sel yang ku ciptakan sendiri? Tuhan.. mungkinkah aku telah jauh darimu karena pengharapanku pada lelaki yang belum tentu menjadi imamku?
Aku tertunduk malu di dalam heningnya malam yang dingin, berharap pada sesosok pangeran yang begitu sempurna, yang akan meminangku untuk jalinan suci berdua. Aku bertanya pada angin mamiri yang berhembus, aku berteriak di antara getaran rasa yang hebat. Sudahkah aku pantas untuk berada di sampingnya? Jika memang dia adalah ikhwan yang ku sadari hadirnya begitu memikat dan sempurna. Sementara diriku tak sebanding dengan keshalehanya.
Rabb..
Inikah jawabanMu atas tanyaku selama ini, saat aku gundah dan begitu rapuh, berharap Kau dekatkan imamku di balik tirai yang tipis? Menghadirkan dirinya di dalam setiap permohonanku? Menjadikan apa yang ada pada dirinya sebagai impian dalam hidupku?
Rabb..
Mungkinkah ini jawabanMu?
Sungguh apakah aku telah pantas untuk semua harapanku? harapanku untuk dapatkan imam yang tersinari dengan iman dan taqwa, yang selalu menutamakan cinta terhadapMu dari pada apapun yang ada di antara ruang dan waktu ini?
Rabb, mungkin ini memang jawabMu, Kau ajarkan aku bagaimana memilih, memilih hanya satu langkah yang harus ku ambil di dalam penantianku ini, yakni terus berusaha untuk “Memantaskan Diri”, karena janjiMu takan pernah terdustakan, “imamku adalah cerminan dari apa yang ada pada diriku”.

Rabu, 19 Februari 2014

Cerpen Inspiratif Islam



KARENA SATU TANGAN, KARENA SATU KAKI
 karya : Siti Nur Fatimah
Alam yang indah panorama bumi ini, Bandung menjadi tempat yang ku singgahi setelah ayah harus berpindah tempat kerja dari Jakarta. Yaa, aku anggap kota kembang ini hanya tempat persinggahan, karena aku tak mau menetap disini. Awalnya aku meronta tak mau meninggaalkan kota yang penuh dengan mall-mall dan gedung-gedung yang megah, tempat yang memanjakan anak muda seperti diriku ini, tepat di Ibu Kota Negara Indonesia, di mana aku bersama teman-temanku bisa berhura-hura dan menghabiskan waktu dengan bersenang-senang, belanja dan tentunya pergi ke salon. Ah aku rasa Bandung akan menjadi tempat yang sangat basi, jauh dari ramainya kota Jakarta, namun apa daya aku tetap harus ikut ke Bandung bersama ayah dan bunda.
“Siska, coba lihat alam di Bandung ini, indah bukan?,” Ayah memanggilku seraya menghibur kepenatanku di dalam mobil sepanjang perjalanan ini, aku hanya berbalik dan tersenyum masam lantas kembali melihat ke jendela luar.
“Ayo nak, nikmati perjalanan kita, jangan cemberut begitu dong sayang nanti hilang looh cantiknya !” Bunda ikut serta menghiburku.
Aku tetap terus mengomel dan kesal dengan keadaan ini, bagaimana tidak, sepanjang jalan yang ku lalui hanya tumbuhan-tumbuhan hijau dan alam yang menyapa. Aku akui ini memang sangat indah, tapi dimana mall nya dimana pusat perbelanjaanya?, ah aku boring bukan kepayang. Akhirnya aku memutuskan untuk mengobati kebosanan ini dengan tidur, berharap ketika terbangun aku berada di tempat yang ramai layaknya Jakarta.
“Siska sayang bangun nak kita sudah sampai !” Bunda membangunkan seraya mengusap halus kepalaku, “Aaah bunda,” Aku menjawab malas dengan perlahan membuka mataku.
“Oh Tuhan, benarkah ini?” aku begitu terkejut melihat tempat yang akan kami diami di Bandung ini, ternyata ayah begitu mengerti mauku, tempat ini layaknya rumahku di Jakarta, luas, megah dan yang paling penting gak kampungan. Ah lega rasanya, aku lekas turun dari mobil. “Semangat banget nak,” Sindir ayah sambil tersenyum melihat tingkahku, aku tak menghiraukanya dan bergegas masuk ke rumah. “Kalau tau di Bandung kayak gini, gak akan nolak deh dari kemarin.” Ucapku dalam hati.
Hari-hari ku lewati dengan indah, semuanya begitu mengasyikan, sekolah favorit, teman-teman yang baik, tempat perbelanjaaan yang penuh diskon. Ya Tuhan ini memang duniaku.
“Ayah, bunda aku pulang,” Sapaku sambil memasuki rumah.
“Bilang salam dulu kalau masuk rumah itu. Kemana saja kamu ini? jam segini baru pulang. Apa lagi ini? pasti kamu belanja ga karuan, barang-barang ini kan sudah ada di rumah jadi untuk apa kamu beli lagi? hanya menghambur-hamburkan uang, belajarlah untuk hemat !” Ayah menyentaku dengan nada tinggi.
“Iya nak, kan barang-barang ini tidak terlalu kamu perlukan, belajarlah untuk menghargai uang, keadaan ekonomi kita tidak akan selamanya selalu di atas sayang!” Sambung bunda berkata halus kepadaku.
“Ah ayah sama bunda ini kayak yang gak ngerti anak muda aja, uang itu harus kita nikmati yah, ya dengan cara kayak gini, shopping, main sama temen, yang penting kan siska bahagia, ayah jangan over protektif gitu deh, uang ayah kan masih banyak,” Aku berbicara sambil berjalan menuju kamar.
“Hey tunggu dulu Siska, ayah belum selesai bicara!”
“Sudah sabar yah, nanti kita obrolkan lagi di waktu yang tepat,” Ucap bunda menenangkan.
“Ayah sama bunda seperti yang tidak pernah muda saja, belanja seperti ini kan wajar, lagian gak akan membuat ayah bangkrut ko dengan hal ini, uang ayah saja masih banyak di bank belum lagi proyek yang sedang ayah jalankan, jadi apa yang harus di pikirkan sih.” Geramku dalam hati.
Rasanya semakin hari menjadi semakin baik bagiku, aku tak peduli ayah dan bunda berkata apa, yang aku tau sekarang aku bahagia dengan semua ini, walaupun aku jadi sering menerima teguran dari guru karena nilaiku yang semakin merosot turun, ancaman tidak naik kelas pun sempat aku dapatkan. Menyebalkan rasanya jika harus mengingat semua itu. Sampai suatu hari ayah di panggil ke sekolah karena nilaiku yang tak kunjung membaik, ah biarkan sajalah paling aku dapat teguran seperti biasanya di rumah, sudah gak asing lagi di telingaku hal-hal seperti itu. Aku mending pergi ke salon bareng teman-teman terus belanja ke mall deh aku dengar lagi ada diskon sampai 50%, OMG sayang banget kan kalau harus aku lewatkan.
Ya Tuhan aku lupa waktu, tepat jam 10 aku bergegas untuk pulang ke rumah, wah sudah pasti di omelin ayah nih, tapi yasudahlah biasanya pun tidak terlalu aku dengar.
“Hey Siska, dari mana saja kamu ini, jam segini baru pulang? duduk di sini ayah mau bicara sama kamu!,” sentak ayah menahan langkahku. Ah aku pikir ayah sudah tidur, ternyata mereka sengaja menunggu kedatanganku di ruang tamu. Bersiaplah Siska kamu kena omel ayah.
Ternyata benar dugaanku, ayah mengomeliku karena nilaiku di sekolah yang tak kunjung membaik, terlebih kebiasaanku yang sering shopping dan pulang malam.
“Ah ayah itu kan biasa, aku pasti bisa memperbaiki nilaiku, itu sih gurunya saja yang terlalu lebay, lagian ayah kenapa sih jadi sering mengomel seperti ini?,” jawabku melawan.
“Dasar kamu ini !” Ayah lalu berdiri dan hendak menamparku, aku menunduk takut, untung saja tangan bunda masih sempat menahanya, aku menangis kencang dan lekas berlari ke kamar. Baru kali ini ayah bisa sekasar itu kepadaku, semua ini karena kita pindah ke Bandung, andaikan masih di Jakarta mungkin semuanya tak akan seperti ini. Tempat ini memang sial, tidak seindah di Jakarta. Aku menangis dan meronta kesal hingga tak sadar tertidur di atas lantai.
“KEBAKARAN .. KEBAKARAN” teriakan itu membangunkanku dari tidur yang lelap. Ya Tuhan, betapa terjekutnya aku, di sekelilingku adalah api yang membara.
“Ayaaahhh.. Bundaaa, Toloooong !” aku berteriak kencang meminta tolong sambil menangis dan terbatuk-batuk karena asap yang semakin menutup seisi kamar. “Tolooong…Tolooong, ya Tuhan Toloong aku!”
“Siskaa..Siskaa,” Aku mendengar suara ayah memanggilku, “Ayah, aku disini,”  Itu menjadi ucapanku yang terakhir dariku karena sesak yang aku alami dan akhirnya tak sadarkan diri.
“Ayaah.” Aku berteriak lemas, sambil menahan sakit di tubuhku, “Aku dimana?.” Selintas aku melihat cahaya begitu tajam tepat di atas kepalaku, ruangan yang asing bagiku, terbaring sendiri tanpa teman dengan infusan di tanganku, dimana sebenarnya ini, mengapa badanku begitu sakit tak tertahan.
“Nak, kamu sudah siuman?” Seseorang menghampiriku dari sudut kiri, aku mengenal suaranya namun aku amat ketakutan melihat badanya yang penuh dengan luka bakar, ia menghampiriku dengan kursi roda yang megeluarkan suara nyaring yang semakin membuatku ingin berteriak kencang. “Aaaah,” dengan spontan aku berteriak dan meronta dengan kesakitan.
“Ini bunda nak, kamu kenapa? tenang sayang!”
“Bundaa?” Aku membalikan wajahku dan lekas ingin memeluknya, namun… ya Tuhan kemana tanganku? “Bunda, kemana tangan Siska bunda, kemana?” Aku menangis dengan kencang tak kuasa menahan kenyataan ini, benarkah ini ya Tuhan? atau hanya sekedar mimpi buruk, aku ingin terbangun dari semua mimpi yang menakutkan ini.
“Sabar ya nak, kamu harus sabar, semua ini sudah menjadi ketentuan-Nya, Allah akan selalu memberikan cobaan sesuai batas kemampuan kita sayang,” Bundapun ikut menangis di sampingku.
“Engga bunda, engga. Kenapa semua ini harus terjadi sama aku bunda, kenapa?” Aku lantas merasakan hal yang aneh dengan kakiku, aku lekas membuka selimut dan benar saja Tuhan kaki kirikuu pun tak ada.
“Ya Tuhan.. mengapa Engkau mengambil kaki kiri dan tangan kananku!” Aku berteriak menolak dan merasa Tuhan tidak adil kepadaku.
“Nak, sudah nak, sudah, kamu tidak boleh seperti itu,” Bunda hanya mampu berucap kata itu dan menemaniku dengan menangis tersedu.
Aku tak kuasa menahan kenyataan bahwa kaki dan tanganku tak ada, bunda lantas menceritakan semua kejadian di malam itu, aku hanya bisa menangis dan tak sanggup mengeluarkan satu kata pun. Tiba-tiba aku teringat seseorang “Ayah mana bun, ayah mana?”
“Ayah ada sayang, dia di ruangan sebelah.” Aku lantas meminta bunda untuk mengantarkanku keruangan tempat ayah di rawat, bunda melarangku namun aku terus memaksa. Aku membuka pintu di ruangan 208 itu tepat di samping ruang aku terbaring tadi, sekilas aku melihat sosok laki-laki setengah baya terbaring di atas kasur, wajahnya amat menyeramkan penuh dengan luka bakar, dan saat ku sadar itu adalah ayah. Aku tak kuasa, aku menangis di sampingnya, ayah rela menyelamatkanku dan mengorbankan tubuhnya, aku hanya kehilangan satu tangan dan satu kaki namun ayah kehilangan dua kaki dan pengelihatnya. Ya Tuhan betapa berdosanya aku selama ini telah durhaka kepada ayah dan bunda sementara mereka rela berkorban untukku hingga hampir nyawanya melayang. Aku tak kuat melihat semua ini, aku terkubur dengan rasa bersalah yang sangat dalam, jika terjadi sesuatu terhadap ayah tentu aku tak akan bisa memaafkan diriku sendiri, badanku melemas, aku tak kuasa dan saat itu semua terasa gelap.
3 bulan berlalu dari kejadian itu, aku mulai menerima apa yang terjadi pada hidupku, semua hartaku telah hangus, kecantikanku telah musnah, sebelah tangan dan kakiku tiada, tapi aku tak peduli karena aku masih memiliki ayah dan bunda yang selamat dari kejadian petaka di malam itu. Betapa aku bertaubat pada-Mu ya Rabb atas semua kesalahan ini, betapa durhaka diriku selama ini, betapa berdosa diriku ini. Melihat pengorbanan ayah yang terus berjuang menafkahi kami meski dalam keadaan tanpa kedua kaki dan tak bisa melihat, seharusnya aku malu pada diriku sendiri. Semua ini memacu semangatku untuk melakukan sesuatu bagi mereka, untuk membanggakan mereka dan memperbaiki hidup kami. Semua kami mulai dari 0, membangun keluarga yang harmonis meski tanpa harta yang banyak. Aku pun kembali ke sekolah, meski awalnya aku malu bukan kepalang.
Di hari itu sepulang dari sekolah, tepat di persimpangan jalan, aku bertemu dengan seorang wanita yang umurnya sebaya denganku, dia menyapaku dan mengajak sejenak bercengkrama, aku melihat kondisinya tidak lebih baik dariku, dia mengalami cacat pada kedua tanganya. Rara namanya, aku melihat dia sedang membagikan makanan kepada anak jalanan.
Ya Allah betapa kagumnya diriku, ternyata Rara tak pernah merasakan bagaimana memiliki tangan, dia cacat sejak ia dilahirkan, aku merasa malu jika terus mengeluh, aku jauh lebih beruntung dari pada Rara, dia bercerita banyak kepadaku, aku begitu terkesima dengan keadaan ini. Dia pernah terpuruk saat menyadari dirinya berbeda, namun ia sadar hal itu tidak pernah merubah keadaan, hingga akhirnya dia memutuskan untuk melangkah dan pada saat itulah kehidupanya di mulai. Kini dia adalah pemilik dan direktur utama sebuah perusahaan besar yang memiliki beberapa cabang di Indonesia, Subhanalloh, betapa luar biasanya dia, selain cantik, sukses, dia pun amat bersahabat dengan orang-orang rendah. Semua ini benar-benar menginspirasiku untuk berkarya dan berubah dari diriku yang dulu.
Sejak hari itu kehidupan pun di mulai, aku mulai belajar bagaimana memanfaatkan sebelah tangan dan kakiku, aku mengoptimalkanya untuk berkarya dan membanggakan orang tua. Aku mencoba belajar untuk memperbaiki nilai-nilai ku di sekolah, aku mencoba menulis dengan tangan kiriku dan jika aku merasa pegal, aku pun belajar bagaimana harus menulis denagn kakiku. Satu tongkat yang harus aku genggam setiap hari untuk membantuku berjalan tentu sedikit banyak membuat tangan kiriku lelah dan lemas, inilah yang membuat aku sering merasa keram saat menulis, namun perjuangan belum berakhir karena masih ada kaki kanan yang membantuku.
Aku ingat saat kecil dahulu aku sempat  meyukai dunia kepenulisan dan saat ini aku ingin kembali belajar bagaimana menulis. Setiap malam setelah membantu ayah bekerja aku sering menorehkan sebuah catatan kecil di buku mungil pemberian Rara saat di jalan waktu itu, aku menorehkan tulisan berupa cerpen atau tulisan-tulisan ringan lainya yang memang aku ingin tulis sebagai wujud peluapan kisah hatiku di keseharian, mungkin orang akrab memanggilnya diary.
Rasanya kehidupanku yang sekarang jauh lebih baik dari kehidupanku yang dulu, walau tanpa kemewahan tapi aku begitu bahagia dan semangat dalam menjalani hidup. Aku menjadi sering menulis dimana pun aku berada. Hingga suatu hari aku melihat sebuah pengumuman di mading sekolah, ternyata itu adalah lomba menulis antar SMA sekota Bandung, aku terpacu untuk mengikutinya, lantas aku segera menulis sebuah cerita berjudul “Siska Dalam Cerita”. Mungkin sedikit lucu karena ini memang berdasarkan kisah nyata dalam hidupku. Semalaman aku tidak tidur untuk membereskan cerpen ini, karena batas akhirnya hanya sampai besok. Aku sebenarnya begitu antusias mengikuti perlombaan ini karena hadiahnya tabungan belajar senilai 2 juta rupiah bagi juara 1, ini akan sangat membantu ayah untuk membiayai sekolahku, ayah tak perlu susah payah untuk melunasi uang ujianku, karena aku akan membayarnya sedniri andaikan aku memenangkan lomba ini.
Pagi pun datang seakan menyapa hariku yang cerah, aku bergegas berangkat ke sekolah dengan penuh semangat membawa lembaran cerpen yang aku tulis semalam. Tepat di gerbang sekolah aku sempat bertabrakan dengan seorang anak yang sama-sama bersekolah di SMAku.
“Maaf.. Maaf, aku buru-buru,” Sapanya sambil terburu-buru membereskan ceceran kertas dan buku yang jatuh dari tanganku.
“Engga apa-apa ko, biar aku yang bereskan,” Sanggahku sambil mengambil barangku yang jatuh. Dia lantas segera pergi ke kelasnya, begitupun aku yang langsung pergi ke ruangan Bu Lina, guru yang menjadi panitia dalam perlombaaan kepenulisan tersebut. Aku tak sabar ingin memberikan cerpen ini kepada bu Lina, bahkan aku tak sabar menunggu hasilnya. Namun, saat aku telah berada di depan bu Lina, aku sadari kertas cerpenku hilang, aku lantas mencari kesana kemari. Bu Lina mencoba menenangkanku, namun aku tak kuasa menahan air mata, cerpen itu adalah karya yang aku buat semalaman dan hilang begitu saja.
“Ayo kita cari Siska, mungkin jatuh di jalan.” Bu Lina mencoba memberikan solusi kepadaku, aku pun lekas keluar dari ruangan bu Lina dan menelusuri setiap jalan yang aku lewati namun hasilnya nol besar, kertas itu memang benar-benar hilang. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain menangis, mungkin ini sudah menjadi kehendak-Nya, aku yang harus rela dengan kenyataan ini.
3 minggu setelah kejadian itu, ada sebuah pengumuman yang menghebohkan di mading, teman-teman mencoba menarikku untuk melihatnya dan di sana terpampang :

JUARA 1
LOMBA MENULIS CERPEN SEKOTA BANDUNG
SISKA YULIA ADIKUSUMA
SMA BINTANG

Ya Allah, bukankah aku tak pernah mengirim karyaku? cerpen itu hilang dan aku tak pernah mengikuti lomba ini, tapi kenapa namaku terpampang di mading? Aku pun segera berlari menuju ruangan bu Lina dan menanyakan hal ini, ternyata bu Lina menjelaskan kepadaku bahwa ada seorang siswa yang menemukan karyaku dan langsung memberikanya kepada ibu.
“Maaf ibu belum sempat memberitahumu, tapi kamu memang anak yang membanggakan.”
Aku amat bahagia dengan hal ini, aku segera memberitahu ayah dan bunda, di sana aku melihat senyuman bahagia yang di pancarkan keduanya, tak pernah aku lihat sebelumnya. Mereka lantas memelukku begitu erat.
“Alhamdulillah ya Allah, semua ini memang nikmat yang besar dari-Mu bagi kami.” Ucap syukur tak henti keluar dari mulutku.
3 bulan berlalu, tepat hari ini pengumuman kelulusanku, setelah aku belajar dengan keras, kini saatnya aku mengetahui hasilnya. Dan betapa aku terkejut saat di umumkan bahwa aku di nobatkan sebagai siswa terbaik di SMA Bintang, aku sempat tak percaya dengan nilaiku yang sebelumnya begitu hancur dan kini aku justru di nobatkan menjadi siswa terbaik.
“Alhamdulillah ya Rabb, ini adalah hadiah untuk ayah dan bunda.”
Namun ternyata kebahagiaan tak hanya sampai di situ, tiba-tiba bu Lina mengatakan keapadaku bahwa sebuah penerbit membaca novel yang pernah aku titipkan kepada bu Lina tentang kisah hidupku dan mereka ingin menerbitkanya dalam sebuah buku. Mereka menawarkan sebuah kerja sama dalam dunia kepenulisan, ini berarti sebuah jalan untuk dirikku menjadi seorang penulis terkenal, sesuai dengan impian dan cita-citaku selama ini.
“Alhamdulillah ya Rabb, betapa kebahagiaan yang tiada henti aku dapatkan sejak kecacatanku ini," Ucap syukurku dalam dada. Ternyata cacat ini adalah cara Allah menjadikanku manusia yang mau untuk berkarya bagi bangsa, yang menyadari nikmat yang tiada terhingga. Jauh rasanya jika di bandingkan dengan saat aku memiliki tubuh yang sempurna dan uang yang melimpah, aku justru hanya bisa menjadi masalah dan masalah. Tapi cacat ini yang menyadarkanku, membuat aku yakin bahwa Allah selalu adil terhadap semua hamba-Nya, mereka yang memiliki kelebihan mungkin tak bisa memanfaatkanya untuk sebuah perubahan dan karya, tapi mereka yang memiliki kekeurangan justru memiliki sejuta sayap untuk terbang mengitari dunia dengan semangat juangnya. Maka tak pernah ada batas siapapun untuk berkarya, bahkan untuk aku seorang Siska yang justru bisa berkarya karena satu tangan dan karena satu kakinya,

Rabu, 27 Maret 2013

Lahirnya Pemudi Persis

Pemudi Persis berdiri sejak resmi sebagai bagian otonom di bawah naungan dan binaan Persis tanggal 28 Februari 1954. Awal berdirinya Pemudi Persis bernama Jam’iyyatul Banaat, tidak disingkat. Nama itu terdapat pada “Anggaran Dasar Djam’ijjatul Banaat” pasal 1 tertanggal 18 Desember 1956 yang ditandatangani oleh Ketua umum Jam’iyyatul Banaat pertama, Aminah D. Sjihab, dan sekretaris-I, Permasih Hassan.

Sebenarnya, jam’iyyatl Bannat, pertama kali berdiri, telah menggunakan “pemudi” untuk menyebut dirinya (bukan organisasi), seperti tertulis pada pasal 4 tentang maksud dan tujuan jam’iyyatul bannat, yaitu (1) meninggikan derajat pemudi dalam rumah tangga dan masyarakat sesuai dengan ajaran islam; dan (2) mempersatukan pemudi Islam dalam satu susunan jamaah.

Sementara dalam Pasal 5 tetang usaha, jam’iyyatul Bannat berusaha untuk: (1) memperdalam pengatahuan agama Islam dan pengetahuan yang dianggap perlu dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam di kalangan anggota dan wanita Islam.

(2) Mengadakan da’wah dan memperluas syi’ar Islam dan mendidik anggota unuk mengamalkan, serta member teladan kepada umum terutama pemudi yang tidak faham tentang apa dan bagaimana hidup secara orang Islam dalam penghidpan sehari-hari. (3) Mengusahakan terbentuknya cabang-cabang di seluruh Indonesia. (4) Menjalankan usaha lain yang dibenarkan oleh Islam . pasal 5 “Anggaran Dasar Djam’ijjatul Bannat” itu dijabarkan dalam lima program kerja yang meliputi organisasi, pendidikan, penerangan, social, dan keuangan.

Dalam bidang organisasi terdapat enam program kerja, yaitu: (1) Meyempurnakan susunan pimpinan mulai pusat sampai ranting. (2) Memperbanyak anggota/membentuk cabang. (3) Mengadakan registrasi anggota. (4) Menyempurnakan administrasi dari Pusat sampai Ranting. (5) Menyempurnakan bahagian-bahagian dengan usahanya. (6) Peninjauan dari PP ke cabang.

Dalam bidang pendidikan terdapat lima program kerja, yaitu: (1) Memelihara anggota dengan mengadakan tabligh-tabligh, kursus-kursus dan pertemuan-pertemuan. (2) Menyelenggarakan pendidikan keagamaan, keibuan/kewanitaan. (3) Mengusahakan agar terjelma guru-guru Taman Kanak-Kanak yang berjiwa Islam dan berdirinya sekolah Taman Kanak-Kanak di tiap cabang. (4) Membuat petunjuk/tutunan organisasi/ administrasi. (5) Mengadakan latihan/kader di tiap-tiap cabang.

Dalam bidang penerangan hanya ada satu program kerja yaitu mengadakan kader penerangan/muballighat ntuk mengadakan da’wah dan memperluas syiar Islam. Dalam bidang social terdapat dua program kerja, yaitu:

(1) Mengadakan/ mengusahakan kelancaran ekonomi yang sederhana bagi anggota.

(2) Mengadakan usaha social bersama-sama dengan badan social. Sementara dalam bidang keuangan terdapat dua program, yaitu: (1) Memperbanyak anggota pnyokong yang terdiri dari ibu/bapak pecinta Jam’iyyatul Bannat. (2) Mengusahakan agar tiap-tiap cabang menepati kewajiban keuangannya kepada pucuk pimpinan.

Susunan pengurus Pimpinan Pusat Jam’iyyatul Bannat yang disahkan tahun 1957 adalah Aminah D. Sjihab (ketua umam), Nur Asikin Jahja (keua I), Malicha Iswandi (ketua II), Permasih Hassan (sekretaris I), Mumun (sekretaris II), Malicha Iswandi (keuangan I), Jojoh Rokajah (keuangan II), Nur Asikin Jahja (penerangan), Rokajah Syarief (pendidikan), Masfiroh (social/ekonomi), dan para pembantu antara lain: Sa’dijah, Sofiah, Lathifah Abdurrachman, Aminah Z., Farida A., dan Ajuning.

Setelah masa kpemimpinan Ibu Aminah D. Sjihab (1957-1962), selanjutnya kepemimpinan Jam’iyyatul Bannat dipegag oleh Ibu Asikin Jahja (1962-1967), Ibu Lathifah Dahlan, BA. (1967-1981), Ibu Nung Nuriyah Sudibdja (1981-1990), Ibu Ai Maryamah (1990-1995).

Pada Muktamar ke-6, bertepatan dengan Muktamar Persis ke XI di Jakarta tanggal 2-4 September 1995, Jam’iyyatul Bannat mengadakan perubahan nama menjadi Pemdi Persis, dengan ketua umumnya yang terpilih adalah Hafifah Rahmi Puspitaningsih (1995-2000). Seperangkat program kerja disusun, wajah-wajah aktivis baru pun mewarnai awal aktivtas Pemudi Persis ini. Dengan latar belakang pendidikan yang beragam, InsyaAllah Pemudi Persis dapat melakukan aktivitas sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan jaman.

Jam’iyyatul Bannat, dalam mengemban misi jihadnya, menghadapi berbagai kendala, antara lain karena kesibukan rumah tangga, mengurus anak, ata mengikuti suaminya ke berbagai tempat, menyebabkan seperangkat program kerja tidak terlaksana dengan baik. Periode 1957-1967 di masa kepemimpinan Ibu Aminah D. Sjihab dan Ibu Asikin Yahya, aktivitas Jam’iyyatul Bannat lebih ditekankan pada pendidikan dan dakwah. Di samping itu, menjalin kerjasama dengan Pemuda Persis, misalnya, ketika Pemuda Persis menidirikn kepanduan (pramuka) Syubbanul Yaum 1 April 1954, Jam’iyyatul Bannat yang baru berdiri 28 Februari 1954 membantu keperluan pandu Pemuda Persis dengan membuat berbagai perlengkapan kepanduan seperti em-blim, atribut, dan berbagai perlengkapan lainnya.

Beberapa kegiatan Jam’iyyatul Bannat periode 1967-1981 di masa kepemimpinan Ibu Lathifah Dahlan antara lain; (1) menyelenggarakan pengajian rutin/bulanan setiap jumak ke-2 di Gedung Persistri Jalan Kalipah Apo Bandung; (2) menghadiri dan memberikan ceramah triwulan di cabang-cabang; (3) ikut serta dalam pengajian-pengajian yang diselenggarakan Persistri; (4) mengikuti kegiatan Tamhiedul Muballighat; (5) memberikan pelajaran di madrasah-madrasah dan ibu-ibu di lingkungannya; (6) mengisi siaran Mimbar Islam di radio-radio dan siaran “Bina Mentalita” di radio Dwikarya Bandung; (7) menyebarluaskan majalah dan buku-buku terbitan Persis, dan serangkaian aktivitas keagamaan lainnya.

Selama periode 1967-1981 tercatat satu bentuk kegiatan yang cukup besar dengan nama kegiatan “Tazwiedu Fatayatil Qur’an” yang diselenggarakan tanggal 1-2 Maret 1969 di Bandung dengan tujuan membimbing anggota dari Pusat Pimpinan hingga ke cabang-cabang dalam berorganisasi dan berdakwah, yang juga merupakan sarana pembinaan/kaderisasi pimpinan Jam’iyyatul Bannat.

Aktivitas Jamiyyatul Bannat di masa kepemimpinan Ibu Lathifah Dahlan dilanjutkan oleh Ibu Nung Nuriyah Sudibdja (1981-1990) dan Ibu Ai Maryamah (1990-1995) dengan penambahan berbagai kegiatan. Dalam bidang pendidikan, banyak aktivis Jam’iyyatul Bannat yang mengabdikan dirinya menjadi guru di Taman Kanak-Kanak (Raudhatul Atfal) dan pesantren-pesantren, dan mengadakan berbagai pendidikan dan latihan keorganisasian.

Dalam bidang tabligh, pengajian rutin setiap jumat ke-2 tetap dipertahankan, disamping pengajian rutin ke berbagai cabang. Sementara dalam bidang social/kesejahteraan PP jam’iyyatu Bannat telah berani membentuk Ummu Dhu’afa, meski belum berkembang, yang bertujuan membantu anak-anak pesantren yang memerlukan bantuan dengan cara mengkoordinir orang tua asuh bekerjasama dengan Pesantren Persis No. 1 Bandung.

# Dari berbagai Sumber

Peradaban Lembah Sungai Gangga (India Kuno)


Peradaban Lembah Sungai Gangga (India Kuno)

1. Pusat Peradaban
Pusat peradaban Lembah Sungai Gangga terletak antara Pegunungan Himalaya dan Pegunungan Windya-Kedna.
Pendukung peradaban Lembah Sungai Gangga adalah bangsa Arya yang termasuk bangsa Indo-Jerman. Mereka datang dari daerah Kaukasus dan menyebar ke arah timur. Bangsa Arya memasuki wilayah India antara tahun 200-1500 SM, melalui Celah Kaibar di Pegunungan Hirnalaya.
Bangsa Arya adalah bangsa peternak dengan kehidupan yang terus mengembara. Setelah berhasil mengalahkan bangsa Dravida di Lembah Sungai Indus dan menguasai daerah yang subur, akhirnya mereka hidup menetap.
Selanjutnya, mereka menduduki Lembah Sungai Gangga dan terus mengembangkan kebudayaannya. Kebudayaan campuran antara kebudayaan bangsa Arya dengan bangsa Dravida dikenal dengan sebutan kebudayaan Hindu.
2. Pemerintahan
Perkembangan sistem pemerintahan di Lembah Sungai Gangga merupakan kelanjutan ~an sistem pemerintahan masyarakat di daerah Lembah Sungai Indus. Runtuhnya Kerajaan Maurya menjadikan keadaan kerajaan menjadi kacau dikarenakan peperangan antara kerajaan-kerajaan kecil yang ingin berkuasa. Keadaan yang kacau, mulai aman kembali setelah munculnya kerajaan-kerajaan baru. Kerajaan-kerajaan tersebut di antaranya Kerajaan Gupta dan Kerajaan Harsha.
Kerajaan Gupta
Pendiri Kerajaan Gupta adalah Raja Candragupta I dengan pusatnya di Lembah Sungai Gangga. Pada masa pemerintahan Raja Candragupta I, agama Hindu dijadikan agama negara, namun agama Buddha masih tetap dapat berkembang.
Masa kejayaan Kerajaan Gupta terjadi pada masa pemerintahan Samudragupta (Cucu Candragupta 1). Pada masa pemerintahannya Lembah Sungai Gangga dan Lembah Sungai Indus berhasil dikuasainya dan Kota Ayodhia ditetapkan sebagai ibukota kerajaan.
Pengganti Raja Samudragupta adalah Candragupta II, yang dikenal sebagai Wikramaditiya. Ia juga bergama Hindu, namun tidak memandang rendah dan mempersulit perkembangan agama Budha. Bahkan pada masa pemerintahannya berdiri perguruan tinggi agama Buddha di Nalanda. Di bawah pemerintahan Candragupta II kehidupan rakyat semakin makmur dan sejahtera.. Kesusastraan mengalami masa gemilang. Pujangga yang terkenal pada masa ini adalah pujangga Kalidasa dengan karangannya berjudul "Syakuntala". Perkembangan seni patung mencapai kemajuan yang juga pesat. Hal ini terlihat dari pahatan-pahatan dan patung-patung terkenal menghiasi kuil-kuil di Syanta.
Dalam-perkembangannya Kerajaan Gupta mengalami kemunduran setelah meninggalnya Raja Candragupta II. India mengalami masa kegelapan selama kurang lebih dua abad.
Kerajaan Harsha
Setelah mengalami masa kegelapan, baru pada abad ke-7 M muncul Kerajaan Harsha dengan rajanya Harshawardana. Ibu kota Kerajaan Harsha adalah Kanay. Harshawardana merupakan seorang pujangga besar. Pada masa pemerintahannya kesusastraan dan pendidikan berkembang dan pesat. Salah satu pujangga yang terkenal pada masa kerajaan Harshawardana adalah pujangga Bana dengan karyanya berjudul "Harshacarita".
Raja Harsha pada awalnya memeluk agama Hindu, tetapi kemudian memeluk agama Buddha. Di tepi Sungai Gangga banyak dibangun wihara dan stupa, serta dibangun tempattempat penginapan dan fasilitas kesehatan. Candi-candi yang rusak diperbaiki dan membangun candi-candi baru. Setelah masa pemerintahan Raja Harshawardana hingga abad ke-1 1 M tidak pernah diketahui adanya raja-raja yang pernah berkuasa di Harsha.
Kebudayaan Lembah Sungai Gangga
Di Lembah Sungai Gangga inilah kebudayaan Hindu berkembang, baik di wilayah India maupun di luar India. Masyarakat Hindu memuja banyak dewa (Politeisme). Dewa-dewa tersebut, antara lain, Dewa Bayu (Dewa Angin), Dewa Baruna (Dewa Laut), Dewa Agni (Dewa Api), dan lain sebagainya. Dalam agama Hindu dikenal dengan sistem kasta, yaitu pembagian kelas sosial berdasarkan warna dan kewajiban sosial. Dalam perkembangan selanjutnya, sistem kasta inilah yang menyebabkan munculnya agama Buddha. Hal ini dipelopori oleh Sidharta Gautama.
Agama Buddha mulai menyebar ke masyarakat India setelah Sidharta Gautama mencapai tahap menjadi Sang Buddha. Agama Buddha terbagi menjadi dua aliran, yaitu Buddha Mahayana dan Buddha Hinayana. Peradaban Sungai Gangga meninggalkan beberapa bentuk kebudayaan yang tinggi seperti kesusastraan, seni pahat, dan seni patung. Peradaban dari lembah sungai ini kemudian menyebar ke daerah-daerah lain di Asia termasuk di Indonesia.
Peradaban Lembah Sungai Indus- Jazirah India terletak di Asia Selatan. India juga disebut Anak Benua Asia karena letaknya seolah-olah terpisah dari daratan Asia. Di utara India terdapat Pegunungan Himalaya yang menjulang tinggi. Pegunungan Himalaya menjadi pemisah antara India dan daerah lain di Asia. Di bagian Barat pegunungan Himalaya terdapat celah yang disebut Celah Khaibar. Di India terdapat berbagai bahasa, di antaranya yang terpenting yaitu sebagai berikut.
bahasa Munda atau bahasa Kolari. Bahasa ini terdapat di Kashmir.
Bahasa Dravida, mempunyai 14 macam, seperti Tamil, Telugu, Kinare, Malayam, Gondhi, dan Berahui.
Bahasa Indo-Jerman, mempunyai bahasa daerah sembilan belas macam, salah satunya adalah bahasa Sanskerta dan Prakreta.
Bahasa Hindustani. Bahasa ini muncul di Delhi dan merupakan percampuran antara bahasa Arab, Parsi, dan Sanskerta. Bahasa ini disebut pula bahasa Urdu.
Mempelajari bahasa Sanskerta merupakan salah satu upaya untuk mengetahui perjalanan sejarah bangsa Indonesia pada masa lalu. Hal ini juga ditujukan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha pada masyarakat Indonesia, di luar pengaruhnya pada politik, ekonomi, dan pemerintahan. William Jones berpendapat bahwa bahasa Sanskerta merupakan bahasa yang serumpun dengan bahasa Parsi, Germania, dan Kelt. Studi tertua tentang India, membawa kita ke India pada masa interglasial II, yaitu sekitar 400.000 SM hingga 200.000 SM. Hal ini berdasarkan hasil penelitian terhadap jenis bebatuan pada lapisan tanah di kawasan India. Dari penelitian ini, terungkaplah sebuah fakta mengenai sejarah manusia yang mendiami kawasan itu setelah melihat artefak-artefak peninggalan purba di Lembah Indus. Para ahli lalu menyimpulkan bahwa di kawasan ini pernah berlangsung sebuah peradaban Lembah Sungai Indus, yang terkenal dengan nama peradaban Mohenjodaro-Harappa, yang berkembang pada 2300 SM. Melalui Celah Khaibar, bangsa India berhubungan dengan daerah-daerah lain di sebelah utaranya. Daerah Lembah Sungai Indus terletak di
Barat Laut India. Sungai Indus berasal dari mata air di Tibet, mengalir melalui Pegunungan Himalaya. Setelah menyatu dengan beberapa aliran sungai yang lain, akhirnya bermuara ke Laut Arab. Panjang Sungai Indus kurang lebih 2900 kilometer. Apabila Anda memperhatikan Sungai Indus pada peta dewasa ini, maka sungai tersebut mengaliri tiga wilayah yaitu Kashmir, India, dan Pakistan. Sisa peradaban Lembah Sungai Indus ditemukan peninggalannya di dua kota, yaitu Mohenjodaro dan Harappa. Penghuninya dikenal dengan suku bangsa Dravida dengan ciri-ciri tubuh pendek, hidung pesek, rambut keriting hitam, dan kulit berwarna hitam.

Penemuan arkeologis di Mohenjodaro-Harappa mulai terjadi ketika para pekerja sedang memasang rel kereta api dari Karachi ke Punjab pada pertengahan abad ke-19. Pada waktu itu, ditemukan benda-benda kuno yang sangat menarik perhatian Jenderal Cunningham, yang kemudian diangkat sebagai Direktur Jendral Arkeologi di India. Sejak saat itu, maka dimulailah penggalian-penggalian secara lebih intensif di daerah Mohenjodaro- Harappa.

1. Keadaan sosial budaya Lembah Sungai Indus
Penggalian-penggalian di situs Mohenjodaro-Harappa, mengungkapkan bahwa pendukung
peradaban ini telah memiliki tingkat peradaban yang tinggi. Dari bukti-bukti peninggalan yang didapat, kita memperoleh gambaran bahwa penduduk Mohenjodaro-Harappa telah mengenal adat istiadat dan telah mempunyai kebiasaan-kebiasaan dalam masyarakatnya. Misalnya, banyak ditemukan amulet-amulet atau benda-benda kecil sebagai azimat yang berlubang-lubang, diasumsikan digunakan sebagai kalung. Lalu, ditemukan juga materai yang terbuat dari tanah liat, yang kebanyakan memuat tulisan-tulisan pendek dalam huruf piktograf, yaitu tulisan yang bentuknya seperti gambar. Sayangnya, huruf-huruf ini sampai sekarang belum bisa dibaca, sehingga misteri yang ada di balik itu semua belum terungkap.
Benda-benda lain yang ditemukan di kawasan Mohenjodaro-Harappa adalah bermacam-macam periuk belanga yang sudah dibuat dengan teknik tuang yang tinggi. Selain itu ditemukan juga benda-benda yang terbuat dari porselin Tiongkok yang diduga digunakan sebagai gelang, patung-patung kecil, dan lain-lain. Dari hasil penggalian benda, dapat diasumsikan bahwa teknik menuang logam yang telah mereka lakukan sudah tinggi. Mereka dapat membuat piala-piala emas. Mereka dapat membuat piala-piala emas, perak, timah hitam, tembaga, maupun perunggu. Penduduk Mohenjodaro-Harappa sudah mampu membuat perkakas hidup berupa benda tajam yang dibuat dengan baik. Namun, senjata seperti tombak, ujung anak panah, ataupun pedang, sangat rendah mutu buatannya. Hal ini mengindikasikan bahwa penduduk Mohenjodaro-Harappa merupakan orang-orang yang cinta damai, atau dengan kata lain tidak suka berperang. Pada masa ini pula, diduga masyarakat Mohenjodaro-Harappa telah mengenal hiburan berupa tari-tarian yang diiringi genderang. Di tempat penggalian ini juga ditemukan alat-alat permainan berupa papan bertanda serta kepingan-kepingan lain. Masyarakat Mohenjodaro-Harappa telah mempunyai tata kota yang sangat baik. Masyarakat pendukung kebudayaan ini juga dikenal mempunyai sistem sanitasi yang amat baik. Mereka mempunyai tempat pemandian umum, yang dilengkapi dengan saluran air dan tangki air di atas perbentengan jalan-jalan utama.
2. Perkembangan kepercayaan Lembah Sungai Indus
Masyarakat Lembah Sungai Indus telah mengenal cara penguburan jenazah, tetapi, hal ini disesuaikan dengan tradisi suku bangsanya. Di Mohenjodaro contohnya, masyarakatnya melakukan pembakaran jenazah. Asumsi ini didapat karena pada letak penggalian Kota Mohenjodaro tidak terdapat kuburan. Jenazah yang sudah dibakar, lalu abu jenazahnya dimasukkan ke dalam tempayan khusus. Namun ada kalanya, tulang-tulang yang tidak dibakar, disimpan di tempayan pula. Objek yang paling umum dipuja pada masa ini adalah tokoh “Mother Goddess”, yaitu tokoh semacam Ibu Pertiwi yang banyak dipuja orang di daerah Asia Kecil. Mother Goddess digambarkan pada banyak lukisan kecil pada periuk belanga, materai, dan jimat-jimat. Dewi-dewi yang lain nampaknya juga digambarkan dengan tokoh bertanduk, yang terpadu dengan pohon suci pipala. Ada juga seorang dewa yang bermuka 3 dan bertanduk. Lukisannya terdapat pada salah satu materai batu dengan sikap duduk dikelilingi binatang. Dugaan ini diperkuat dengan ditemukannya gambar lingga yang merupakan lambang Dewa Siwa. Namun, kita juga tidak dapat memastikan, apakah wujud pada materai tersebut menjadi objek pemujaan atau tidak. Meskipun demikian, dengan adanya bentuk hewan lembu jantan tersebut, pada masa kemudian, bentuk hewan seperti ini dikenal sebagai Nandi, yaitu hewan tunggangan Dewa Siwa.
3. Politik dan pemerintahan Lembah Sungai Indus
Kondisi kehidupan perpolitikan pada masa transisi (pasca Harappa hingga masa Arya), tampaknya mulai terganggu dengan menyusutnya penduduk yang tinggal di kawasan Lembah Indus selama paruh kedua millenium II SM. Mungkin saja terjadi karena pendukung kebudayaan Indus itu musnah atau melarikan diri agar selamat ke tempat lain, sementara para penyerang tidak bermaksud untuk meneruskan tata pemerintahan yang lama. Hal ini bisa terjadi karena diasumsikan tingkat peradaban bangsa Arya yang masih dalam tahap mengembara, belum mampu melanjutkan kepemimpinan masyarakat Indus yang relatif lebih maju, dilihat dari dasar kualitas peninggalan kebudayaan yang mereka tinggalkan.
4. Faktor penyebab kemunduran Lembah Sungai Indus
Beberapa teori menyatakan bahwa jatuhnya
peradaban Mohenjodaro- Harappa disebabkan karena adanya kekeringan yang diakibatkan oleh musim kering yang amat hebat serta lama. Atau mungkin juga disebabkan karena bencana alam berupa gempa bumi ataupun gunung meletus, mengingat letaknya yang berada di bawah kaki gunung. Wabah penyakit juga bisa dijadikan salah satu alasan punahnya peradaban Mohenjodaro-Harappa. Tetapi, satu hal yang amat memungkinkan menjadi penyebab runtuhnya peradaban Mohenjodaro-Harappa ialah adanya serangan dari luar. Diduga, serangan ini berasal dari bangsa Arya. Mereka menyerbu, lalu memusnahkan seluruh kebudayaan bangsa yang berbicara bahasa Dravida ini. Hal ini sesuai dengan yang disebutkan pada kitab Weda. Di dalam kitab itu, disebutkan bahwa bangsa yang dikalahkan itu ialah Dasyu atau yang tidak berhidung. Dugaan tersebut didasarkan atas anggapan bahwa orang-orang yang mereka taklukkan adalah orang-orang yang tidak suka berperang. Hal ini bisa dilihat dari teknologi persenjataan yang kurang baik, misalnya dari kualitas ujung tombak maupun pedang mereka. Bukti-bukti yang lain adalah adanya kumpulan tulang belulang manusia yang terdiri atas anak-anak dan wanita yang berserakan di sebuah ruangan besar dan di tangga-tangga yang menuju tempat pemandian umum ataupun jalanan umum. Bentuk dan sikap fisik yang menggeliat, mengindikasikan adanya serangan, apalagi jika melihat adanya bagian tulang leher yang terbawa ke bagian kepala, ketika kepala itu terlepas dari tubuh. Sejak 1500 SM, peradaban Mohenjodaro-Harappa runtuh, tidak lama setelah bangsa Arya itu memasuki wilayah India lewat Iran. Sejak saat itu, dimulailah masa baru dalam perkembangan kebudayaan India di bagian utara.
5. Masa Arya
a. Perkembangan agama Hindu dan Kerajaan Gupta
Pada tahun 1500 SM, bangsa Arya yang berasal dari Asia Tengah masuk ke wilayah India melalui Celah Khaibar. Kedatangan mereka mendesak bangsa Dravida. Bangsa Arya yang merupakan bangsa penggembala berkulit putih dan badan tinggi besar berperang beberapa lamanya dengan bangsa Dravida. Peperangan tersebut mengakibatkan bangsa Dravida pindah ke selatan, namun ada juga yang tetap bertahan dan melakukan interaksi dengan bangsa pendatang tersebut. Interaksi yang terus-menerus itu menimbulkan asimilasi kebudayaan, yaitu lahirnya kebudayaan Hindu yang merupakan percampuran kebudayaan Dravida dan Arya. Pada perkembangannya, agama Hindu mengalami beberapa kali perubahan yaitu sebagai berikut.
1) Fase Weda
Pada masa ini masyarakat Hindu mendasarkan hidupnya agar sesuai dengan ajaran Weda. Kitab Weda terdiri 4 kitab yaitu: Regweda, Samaweda, Yajurweda, dan Atharwaweda. Regweda merupakan kitab yang berisi syair puji-pujian pada dewa. Samaweda berisi nyanyian-nyayian untuk upacara-upacara keagamaan. Yajurweda berisi doa-doa puisi dan prosa. Adapun Atharwaweda berisi doa-doa untuk penyembuhan penyakit, ilmu sihir, dan doa-doa untuk peperangan. Kitab-kitab tersebut merupakan pegangan bagi masyarakat Hindu. Namun, pada umumnya mereka hanya mempelajari tiga kitab saja, karena mereka menilai Atharwaweda memiliki kecenderungan kepada ilmu sihir. Tidak semua kalangan Hindu menolak Atharwaweda. Ada sebagian kalangan, terutama para Brahmana, yang mempelajarinya dengan tujuan untuk menangkal ilmu sihir. Pada fase Weda umat Hindu menyembah banyak dewa (politheisme), salah satu dewa terbesar adalah Dewa Indra, Ganesa.
2) Fase brahmana
Pada fase ini kaum Brahmana menjadi kelas tersendiri dalam masyarakat Hindu yang memiliki keistimewaan yaitu kedudukan yang tinggi. Memang, dalam sistem kasta, kaum Brahmana mendapat posisi tertinggi, yang disusul oleh kaum Ksatria yang terdiri atas raja dan para bangsawan serta prajurit. Kasta ketiga yaitu Waisya yang terdiri atas para pedagang, dan keempat adalah kasta Sudra. Kaum Brahmana mendapat tempat yang tertinggi dalam agama Hindu disebabkan kemampuan mereka dalam menerjemahkan dan memahami kitab Weda. Pada fase ini banyak sekali diadakan upacara-upacara yang wajib dihadiri dan dipimpin oleh kaum Brahmana. Dengan demikian, kedudukan Brahmana menjadi teramat penting.
3) Fase uphanisad
Pada fase ini terjadi pemberontakan terhadap kaum Brahmana, baik yang dilakukan oleh Ksatria (melahirkan agama Buddha dan Jaina) maupun yang dilakukan oleh masyarakat kebanyakan. Pada masa ini berkembang paham atheisme, masyarakat berbondong-bondong meninggalkan agama Hindu.
4) Fase Hindu Baru
Kaum Brahmana kembali berusaha memperbaiki ajaran Hindu yang mulai ditinggalkan pengikutnya, maka lahirlah Agama Hindu Baru. Pada masa ini muncul tiga dewa besar (Trimurti) yaitu Siwa (dewa perusak), Wisnu (dewa pemelihara), dan Brahma (dewa pencipta). Ajaran Hindu berkeyakinan tentang adanya reinkarnasi, yaitu suatu pemahaman bahwa hidup ini akan terus berulang jika manusia tidak dapat melepaskan diri dari nafsu. Untuk lepas dari lingkaran Samsara tersebut, maka penganut Hindu harus menyesuaikan hidupnya sesuai Weda dengan melaksanakan dharma sesuai tuntunan kaum Brahmana. Pada masa itu bangsa Arya mendirikan Kerajaan Gupta. Kerajaan ini diperintah oleh raja antara lain: Chandragupta, Samudra Gupta, dan Candragupta
b. Perkembangan agama Buddha
Tokoh pendiri agama Buddha adalah Gautama Sakyamuni. Nama ini mengandung arti orang bijak dari Sakya, ia diperkirakan lahir pada 563 SM. Ia adalah putra seorang kepala daerah yang bernama Suddhodana di Kapilavastu, perbatasan Nepal. Ketika umurnya sudah mencukupi, Gautama menikah dengan kemenakannya yang bernama Yasodhara. Selang beberapa waktu, Yasodhara melahirkan seorang anak yang bernama Rahula. Pada umur 29 tahun, Gautama memutuskan untuk meninggalkan keduniawian, meninggalkan istana dan mengembara dengan jubah kuning. Sampai pada suatu waktu, ketika Gautama sedang duduk di bawah sebatang pohon pipala di Bodhi Gaya, ia menerima penerangan atau Bodhi. Di tempat itu kemudian dibangun candi yang bernama Mahabodhi.
Pengaruh Peradaban Lembah Sungai Indus pada Masyarakat Indonesia
Beberapa pengaruh peradaban Lembah Sungai Indus terhadap kebudayaan dan seluruh aspek kehidupan bangsa Indonesia antara lain sebagai berikut.
Pembakaran dupa dan kemenyan ketika akan melakukan upacara.
Keyakinan tentang zimat atau benda yang mempunyai kesaktian tertentu.
Keyakinan pada batara kala, upacara ruatan.
Pengagungan pada cerita Ramayana dan Mahabharata dalam cerita wayang
Upacara wedalan (hari lahir), sekaten, penanggalan Hindu, hari pasaran, perhitungan wuku, dan upacara-upacara setelah kematian seseorang.
Banyaknya kata-kata dalam bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Sanskerta dan Pali.
Olahraga pernapasan, yaitu yoga.
Islam yang berkembang di Indonesia berasal dan dipengaruhi budaya India. Hal itu dibuktikan dengan melihat hal-hal berikut:
1) batu kubur atau nisan Sultan Malik As Saleh terbuat dari batu marmer yang memiliki corak yang sama dengan yang ada di India pada abad ke-13, relief yang terdapat dalam makam Sultan Malik As Saleh memiliki corak yang sama dengan yang ada di kuil Cambay India, serta 3) adanya unsur-unsur Islam yang menunjukkan persamaan dengan India, salah satunya cerita atau hikayat tentang nabi dan pengikutnya sangat jauh dari cerita-cerita Arab, tetapi malah lebih mirip dengan cerita dari India.